Cara Esther Duflo Memerangi Kemiskinan di Dunia

Artikel ini memuat informasi yang saya terjemahkan dengan beberapa perubahan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul asli “What Are the Best Tools for Fighting Global Poverty?” dari buku Naked Statistics : Stripping the Dread from the Data karangan Charles Wheelan.

Kita tahu secara pasti perihal bagaimana membuat kemiskinan di negara miskin menjadi berkurang. Tentu juga, kita tahu apa yang membedakan negara yang kaya dengan negara yang miskin, seperti contohnya tingkat pendidikan dan kualitas dari pemerintahannya. Dan tentu juga kita telah melihat bagaimana negara seperti China dan India dapat mengubah perekonomiannya selama beberapa dekade terakhir. Tetapi dengan pengetahuan kita yang seperti ini, belumlah jelas langkah apa yang dapat kita ambil untuk mengurangi kemiskinan di negara seperti Mali dan Burkina Faso (Negara di Afrika Barat).

Dimanakah kita harus memulainya?

Seorang ekonom dari Prancis bernama Esther Duflo mengubah pemahaman kita mengenai kemiskinan di Dunia dengan memperbarui sebuah alat/perangkat lama untuk tujuan yang baru: eksperimen acak terkendali atau randomized, controlled experiment. Duflo yang merupakan pengajar di MIT (Massachusetts Institute of Technology) benar-benar melakukan eksperimen pada intervensi yang berbeda-beda untuk meningkatkan taraf hidup orang-orang miskin di negara berkembang.

Gambar: http://news.mit.edu

Contohnya, salah satu masalah yang sudah berkepanjangan pada sekolah di India ialah tingkat absen para guru, terlebih pada sekolah yang kecil dan terletak di pinggiran kota serta pedesaan dengan hanya memiliki satu orang guru. Duflo bersama rekannya Rema Hanna melakukan uji coba yang cermat  dengan penggunaan teknologi terhadap sample acak dari 60 sekolah dengan guru pengajar seorang diri (one-teacher schools) di provinsin Rajasthan India. Guru pada 60 sekolah tersebut ditawari bonus insentif untuk kehadirannya mengajar di kelas. Disini bagian kreatif dari percobaan ini: Para guru diberikan kamera yang akan memotret mereka saat sedang mengajar, membuktikan kalau guru tersebut benar-benar hadir dan mengajar di kelas. Absen nya para guru turun hingga 50% pada sekolah dimana eksperimen dilakukan dibandingkan dengan guru yang diambil secara acak dari 60 sekolah tanpa intervensi bonus kehadiran (control group). Nilai tes siswa-siswinya meningkat, dan lebih banyak siswa-siswi yang melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya.

Eksperimen Duflo yang lain di Kenya melibatkan pemberian subsidi kecil untuk membeli pupuk sesaat setelah masa panen bagi petani yang dipilih secara acak (randomly selected). Bukti menyebutkan bahwa pemberian pupuk dapat menignkatkan tingkat output ladang tani. Petani sadar pula akan hal tersebut, tetapi saat waktunya untuk menanam tanaman tani, petani biasanya tidak memiliki cukup uang untuk membeli pupuk. Ini yang mendasari apa yang disebut “Perangkap kemiskinan” atau poverty trap karena petani dalam hal ini terlalu miskin untuk bahkan mengurangi kemiskinannya sendiri. Duflo dan rekannya menemukan bahwa subsidi kecil berupa bebas biaya antar angkut pupuk yang ditawarkan kepada petani saat mereka masih memiliki uang kas setelah masa panen, meningkatkan penggunaan pupuk sebanyak 10 sampai 20 persentase point dibandingkan dengan penggunaan pupuk di kelompok tanpa intervensi (control group).

Duflo juga melakukan eksperimen berkaitan dengan permasalahan perang gender (gender war). siapa yang lebih bertanggung jawab perihal penanganan keuangan pada keluarga, laki-laki atau perempuan? dari bukti anekdotal jauh jauh waktu menyebutkan bahwa perempuan menempatkan kesehatan, keamanan, dan kesehatan anak-anaknya, sementara laki-laki cenderung memboroskan uangnya untuk hal-hal yang bisa dibilang tidak penting. Buruknya, bukti  anekdotal tersebut hanya akan mendorong stereotip jaman dahulu. Baiknya, hal tersebut merupakan hal yang sulit dibuktikan, karena keuangan sebuah keluarga biasanya tergabung menjadi satu.

Bagaimana caranya kita dapat mencari tahu pola konsumsi istri dan suami pada suatu keluarga?

Duflo menemukan eksperimen alami di Cote d’Ivoire atau Ivory Coast atau Pantai Gading, sebuah negara di afrika barat. Disana, laki-laki dan perempuan pada sebuah keluarga biasanya berbagi tanggungjawab terhadap beberapa lahan tani. Laki-laki dan perempuan juga bertani tanaman yang berbeda, laki-laki menanam kokoa, kopi, dan hal lainnya; sementara perempuan menanam kelapa, pisang, dan tanaman tani lainnya. Uniknya, tanaman tani milik laki-laki dan perempuan merespon pada pola hujan. Di waktu dimana hasil tani kokoa dan kopi bagus, laki-laki akan memiliki pendapatan lebih. Di waktu dimana hasil tani pisang dan kelapa baik, perempuan akan memiliki uang tambahan di kantongnya. Pertanyaan selanjutnya:

Apakah anak-anak pada keluarga tersebut mendapat keuntungan lebih pada saat hasil tani laki-laki sedang baik atau pada saat dimana hasil tani milik perempuan menghasilkan keuntungan yang baik?

Jawabannya: Pada saat hasil tani perempuan sedang baik, mereka (perempuan) menyisihkan kelebihan uangnya untuk membeli lebih banyak makanan untuk keluarganya, sementara laki-laki tidak. Esther Duflo dianugerahi John Bates Clark Medal yang dipersembahkan oleh American Economic Association untuk ekonom terbaik dibawah empat puluh tahun.

Duflo melakukan evaluasi atas kerjanya. Hasil kerjanya, dan hasil kerja dari pihak lainnya sekarang menggunakan metode yang dipakai Duflo, yang secara terbukti mengubah taraf hidup orang-orang miskin. Dari sisi statistik, hasil kerja Duflo telah mendorong kita untuk berfikir lebih luas mengenai bagaimana eksperimen acak-terkontrol (Randomized, controlled experiments) yang sejak lama dinilai merupakan ranah sains laboratorium dapat digunakan lebih luas lagi untuk mencari tahu hubungan kausal pada lingkup lain di kehidupan.

Buku Referensi & buku dengan pembahasan menarik sejenis:

  • Naked Statistics oleh Charles Wheelan
  • Freakonomics oleh Steven D. Levitt & Stephen J. Durbner
  • Against the Gods oleh Peter L. Bernstein

 

Update Terakhir : 11/10/2019

 

Leave a Reply